Dua Petugas ATR/BPN Sumenep Diusir Warga di Lahan Sengketa

Foto: Kedua pihak terlibat adu mulut dan beritegang
234
ad

MEMOonline.co.id, Sumenep - ATR/BPN Sumenep kelimpungan saat hendak melakukan pengukuran ulang terhadap lahan seluas 1.817 m2 yang berlokasi di Pinggir JL Raya Kalianget Timur, RT 03 RW 05 Dusun Tembangan. Peristiwa ini terjadi Selasa (7/7/2020) kemarin.

Pengukuran ulang dilakukan BPN Sumenep atas permintaan Hak Milik Fairuzziyah, dengan Nomor 01, Surat Ukur No 425 yang sudah menerima hak kuasa atas tanah tersebut dari pemilik sebelumnya, yaitu Faishol Bachabere.

Sejarahnya, tanah sengketa itu awalnya milik Salim Bin Mohammad At-Tamimi, lalu tanah tersebut dijual ke Faishol Bachabere pada 30 Oktober 1985, tanah seluas 1.817 m2 itu dengan bukti kwitansi.

Atas penjualan itu, kepemilikan sertifikat berganti kepada Faishol Bachabere.

Setelah Faishol Bachabere meninggal dunia, sertifikat tanah itu kembali dibalik nama ke istri almarhum, bernama Faslun Bagraf.

Karena pembaharuan sertifikat, BPN Sumenep melakukan ukur ulang peta bidang atas lahan Luas 1.817 m2 untuk istri almarhum bernama Faslun Bagraf.

Ironisnya, warga yang menempati lahan tersebut dan mengklaim atas kepemilikan tanah menolak saat hendak dilakukan pengukuran oleh petugas BPN.

Pasalnya, salah satu pihak yang menolak itu mengaku memiliki bukti kepemilikan dengan pepel dan surat pembayaran pajak tanah (SPPT)

Kendati demikian, tanah yang ditempati sejumlah warga itu sudah bersertifikat dengan Hak Milik Nomor 01, Surat Ukur No 425 atas nama Faishol Bachabere dan juga memiliki bukti SPPT.

Karena kedua pihak cekcok dan khawatir menimbulkan keonaran, kedua petugas ukur BPN Sumenep yang datang ke lokasi akhirnya pulang.

"Ya tidak bisa kalau ribut-ribut begi, biar diselesaikan dulu persoalannya," ucap Deni petugas ukur BPN.

Sementara itu Kepala Desa Kalianget Timur, Purnanto menjelaskan, problem lahan yang disengketakan sudah lama terjadi. Bahkan bukan hanya menyangkut pribadi kedua orang yang cekcol tersebut.

Purnanto meriwayatkan, bahwa dulunya pihak yang menempati tanah tersebut yakni atas nama Abd Muhi Kurtowijoyo, pernah menggugat ATR/BPN Sumenep.

"Namun, BPN Sumenep menang dalam putusan Mahmakah Agung," Jelasnya, Rabu (8/7/20). 

Menurut Purwanto, kedua pihak yang bersengketa saat ini sama-sama memiliki bukti kepemilikan. Dan tidak mau untuk berdamai.

Pihak pertama, yaitu Fairuziyah (ahli waris) pegang sertifikat kepemilikan, sedangkan pihak kedua yakni Abd Muhi Kurtowijoyo (yang menempati lahan) pegang pepel.

“Sudah tidak bisa, mereka harus menyelesiakan secara hukum secara indvidu. Harus diselesaikan di pengadilan,” terangnya

“Apapun nanti keputusan pengadilan, ya mereka harus legowo harus menerima segala keputusan,” pungkasnya. (Zain).

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Jember - Perseteruan antara ayah tiri dan anak kembali terjadi. Motif dari pertengkaran ini dipicu karena harta...

MEMOonline.co.id, Bekasi - Cikarang Pusat - Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja, meminta pramuka untuk tetap...

MEMOonline.co.id, Kota Batu - Wisata alam Coban Talun telah dibuka kembali mulai 18 Juli 2020 dengan menerapkan protokol...

MEMOonline.co.id, Probolinggo - Demi memverikan waduh kepada para wartawan khususnya bertugas di wilayah...

MEMOonline.co.id, Jakarta - Presiden RI, Joko Widodo memuji respon cepat DPD RI terhadap sejumlah masalah yang dihadapi...

Komentar