Antara Impian, Harapan dan Cobaan Bagi Sarjana Muda

Foto: Maliatuz Zahroh, Tim Redaksi MEMO online
148
ad

Two things are infinite

The universe and human stupidity

And i’m not so sure about the universe. Albert Einsten.

MEMOonline.co.id, Sumenep – Bagi Lia/Lili sapaan akrab Maliatus Zahroh (24), asal Dusun Banangger, Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, lulus kuliah bukanlah  jaminan untuk langsung mendapatkan pekerjaan yang layak, yang sesuai dengan harapan.

Apalagi untuk saat ini, lapangan pekerjaan untuk Sarjana Muda, khususnya bagi  tidak mempunyai kemampuan dan skill khusus, boleh dikata jarang, bahkan tidak ada sama sekali.

Terkecuali, lulusan Sarjana Muda mau bekerja sebagaimana layaknya masyarakat umum, misal menjadi buruh pabrik, atau menjadi kuli.

Hal itu tentu sangat sesuai dengan masa penyelesaian skripsi sebagai tugas akhir kuliah, yang lumayan membuat kebanyakan mahasiswa kehilangan selera makan. 

Menurut gadis mungil nan centil kelahiran 22 Juli 1995 dan berstatus jomblo ini, penyelesaian tugas akhir kuliah seperti mulai dari proses penyetoran judul proposal, sidang proposal, sampai pada menit-menit berharga lainnya yang saya habiskan mencari buku dan wawancara pada beberapa orang.

Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, Lili kadang malah menghabiskan waktu untuk bercerita banyak hal dengan teman, membaca novel romance atau membuat cerita pendek yang seringkali menyita seluruh fokus di kepala saya.

“Bukannya tidak ingat bahwa ada hal penting_skripsi_yang harus segera saya sentuh dan selesaikan, tapi karena memang, saya selalu tergoda melakukan sesuatu yang kadar ‘penting’nya hanya 20% saat ada pekerjaan yang  kadar pentingnya lebih mendesak sampai 99%,” kata Lili.

Dan alhasil, sidang skripsi saya tergolong molor dari kebanyakan teman-teman saya yang sudah bernapas lega karena terbebas dari zona tidak nyaman_setidaknya begitu bagi saya_penggarapan skripsi.

“Cobaan terbesar bagi penulis adalah rasa malas. Ada saatnya seorang penulis merasa tidak punya daya apa-apa. Merasakan jalan buntu yang berarti tidak adanya imajinasi maupun ide yang mengendap di otak. Walau sebenarnya saya masih ingat betul apa yang dikatakan guru sastra terhadap saya, bahwa ide jangan ditunggu, tetapi dicari. Dan alhamdulillah, saat menduduki semester akhir dalam jenjang kuliah Strata Satu (S1), saya mengalami betul cobaan terbesar bagi penulis,” tuturnya.

Menurutnya, orang yang malas tidak butuh campur tangan setan untuk gagal. Begitulah tulisan yang saya tulis dengan huruf  kapital di catatan harian saya.  Berharap sebaris kalimat tersebut bisa mensugesti saya untuk serius pada tugas akhir ini. Nyatanya, tulisan itu tidak memberi pengaruh banyak, sekadar saya baca dan lihat lalu dilupakan.

Satu tahun setelah saya mondok di Annuqayah Latee II, saya memilih bergabung di organisasi kepenulisan yaitu Forum Lingkar Pena. Di sana, saya tidak hanya belajar tentang teori menulis, tapi juga belajar tentang bagaimana berbicara dan menyampaikan pendapat di depan umum.

Sejak saat itu, saya belajar memberanikan diri mempercayai tulisan saya, mempercayai karya saya seperti ia adalah bagian dari diri saya sendiri. Berkat motivasi dari kakak senior dan para tutor, saya mulai memperkenalkan tulisan saya ke media, mengikutkan ke berbagai event lomba, maupun mengirimkan ke majalah-majalah lokal di Annuqayah.

Guru saya pernah berujar, menulislah lalu lupakan. Ketika seseorang mengirimkan tulisannya ke media apapun, anggaplah ia sudah membuang tulisannya, jangan pernah mengingat atau berharap tulisan itu akan segera dimuat, karena dengan begitu, ia justru akan lupa untuk membuat tulisan baru. Dan walaupun ada banyak tulisan saya yang saya lupakan, alhamdulillah, ada beberapa yang tembus ke media dan memenangkan beberapa event lomba.

Sebulan sebelum wisuda harapan yang menjadi tujuan saya masih mengambang. Antara bekerja atau melanjutkan S2. Beberapa brosur S2 dari berbagai universitas saya sodorkan ke Bapak saya setiap kali ia berkunjung. Dengan harapan akan mendapat persetujuan dari beliau. Walaupun harapan saya tidak muluk-muluk jika mengingat Bapak saya hanya sopir taksi yang penghasilannya di bawah rata-rata. Namun demikian, saya sangat bersyukur karena Bapak selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya.

Dan alhamdulillah, saat wisuda saya dinobatkan menjadi mahasiswa berprestasi. Tidak henti-hentinya saya bersyukur dengan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya. Setidaknya saat itu saya dapat bernapas lega melihat raut bahagia yang tampak jelas di wajah Bapak Ibu saya.

Hari itu, sejarah merekam jejak perjalanan saya selama menulis dan menjadi mahasiswa di Kampus TATAKRAMA Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA).

Hidup itu seperti naik sepeda, agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak, Albert Einstein_

Barangkali begitu kalimat yang setiap hari menjadi tamparan keras bagi saya yang hanya menganggur di rumah. Bagaikan hidup segan, mati tak mau. Kakak senior saya berkali-kali mrencoba menghibur dengan berkata kalau ini hanya cobaan bagi sarjana muda.

Pernah suatu ketika saya melamar kerja menjadi guru bahasa indonesia di salah satu Yayasan di Sumenep.

Dengan berbekal tekad dan harapan akan diterima, saya lengkapi semua berkas-berkas dan mengikuti serangkaian tes, hingga pada akhirnya saya ditolak dan kembali dengan perasaan hampa.

Ada banyak keinginan yang mengendap dalam diri saya. Tentang impian, karir, dan harapan-harapan kecil yang kerap kali mengusik ingatan saya. Membuat saya terobsesi dan sangat berambisi. Saking banyaknya keinginan yang mengendap, sampai saya lupa dan bingung hendak mewujudkan yang mana, hendak memperioritaskan yang mana.

“Dan saya percaya bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang kita temui saat tidur, tapi mimpi adalah sesuatu yang membuat kita tidak bisa tidur. Saya termasuk orang yang tidak percaya pada sebuah keajaiban, setiap sesuatu butuh kerja keras, dan kerja keras butuh doa yang pantas,” celotehnya.

Sebab yang dinamakan keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan_Thomas A. Edison.

Suatu hari saya mendapat telpon dari mantan ketua Forum Lingkar Pena Cabang Sumenep yang menawarkan sebuah pekerjaan kepada saya.

Dan setelah saya lihat, ternyata merupakan jenis pekerjaan yang saya idam-idamkan.

Menjadi bagian dari sebuah perusahaan penerbitan yaitu Redaksi Memo Online. Setelah melengkapi berkas-berekas yang dibutuhkan, saya mengirimkannya ke Pimpinan Redaksi dan ke Ketua Tim Seleksi.

“Dan alhamdulillah, selang beberapa waktu, saya dipanggil untuk wawancara, sampai akhirnya saya diterima bergabung di media tersebut,” ucapnya, seraya menyunggingkan senyum manisnya.

Barangkali sudah menjadi takdir untuk terjun di dunia jurnalis seperti keinginan saya dulu, mulai menyibukkan diri dengan teks-teks berita yang jujur saja kadang membuat saya sakit kepala.

“Tapi alhamdulillah, saya berusaha untuk fokus dan mencintai pekerjaan ini. Karena bahagia bukan saat mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi mencintai apa yang kita miliki,” pungkas Lili.

Bekerjalah bagaikan tak butuh uang, mencintailah bagaikan tak pernah disakiti, menarilah bagaikan tak seorangpun sedang menonton_Mark Twain.

Catatan: Maliatuz Zahroh_saat ini sudah menjadi Tim Redaksi Memo Online dan masih aktif sebagai Anggota Forum Lingkar Pena Cabang Sumenep.

 

         

 

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Jakarta - Istri cawapres Sandiaga Uno, Nur Asia Uno, menanggapi santai mendengar sang suami dilamar seorang mahasiswi saat...

MEMOonline.co.id, Sumenep - Ratusan Santri dan Alumni Pesantren se-Madura menggelar bakti sosial (Baksos). Acara itu dilaksanakan usai acara...

MEMOonline.co.id, Sumenep - Kiai muda dan Alumni Pesantren se-Madura menggelar deklarasi dukungan terhadap pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden...

MEMOonline.co.id, Makassat – Motif melompatnya dua gadis belia, yakni Wahyuni (21), dan Sarah (16), dari lantai 3 Home Stay B17, Makassar, yang...

MEMOonline.co.id, Surabaya - Tak dapat dipungkiri, ternyata keberadaan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-104 di Jawa...

Komentar