Celoteh Eva, si Gadis Pesantren Dalam Mengejar Mimpi Menjadi Wanita Karir

Foto: Evadatus Sa'adah, Tim Redaksi MEMO online
191
ad

MEMOonline.co.id, Sumenep - Berangkat dari ketidaktahuannya dalam dunia tulis menulis, yang menjadi impiannya sejak kecil, Eva sapaan akrab Evadatus Sa’adah (23), asal Dusun Guluk-Guluk tengah, Desa/Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, memberanikan diri untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, yakni perguruan tinggi (PT).

Namun ditempat barunya itu (Perguruan Tinggi red) Eva harus mengerjakan tugas-tugas yang lebih berat, yang samasekali tidak sama dengan semasa masih di SMA.

Waktu di SMA, Eva dan teman-temannya yang lain hanya disibukkan oleh tugas penulisan makalah, yang didalam penulisannya harus memiliki kemampuan dalam bidang jurnalistik.

Meski saat itu dirinya sama sekali tidak mengerti bagaimana cara untuk menulis makalah, namun berkat keingin tahuannya yang tinggi Eva berhasil menjalankan tugas penulisan makalah dengan baik.

Akan tetapi, saat gadis cantik kelahiran 10 April 1996 ini ingin melanjutkan jenjang pendidikannya ke PT, dirinya mengaku minder, karena diakhir studinya nanti, bakal dibebani tugas penulisan skripsi, yang rumitnya boleh dibilang luar biasa.

“Akan tetapi saya terus memotifasi diri saya agar harus bisa melanjutkan pendidikan saya,” kata gadis cantik nan lajang, seraya mengembangkan senyum manisnya.

Menurutnya, setelah dirinya diterima dan masuk di PT, Eva tidak henti-hentinya terus belajar dan belajar serta bertanya kepada seniornya tentang tata cara penulisan makalah yang baik dan benar.

“Meski dalam keadaan minder, saya memberanikan diri untuk sebisa mungkin bisa menulis makalah selayaknya mahasiswa yang lain,” paparnya.

Nah disitulah sedikit demi sedikit dirinya mengaku mulai tahu cara menulis  makalah yang diawali menulis latar belakang masalah terlebih dahulu.

“Tapi menurut saya menulis latar belakang masalah, sangatlah sulit dari apa yang saya pikirkan,” terangnya.

Apalagi menurut Eva, saat dirinya pindah belajar menulis catatan kaki, Eva mengaku sedikit kesusahan, karena saya masih belum hafal betul ketentuan dalam menulis catatan kaki.

“Solusinya, saya selalu melihat contoh catatan kaki milik senior yang diberikan kepada saya sebagai pegangan. Dan alhamdulillah dengan bekal yang menurut saya sangatlah sedikit akhirnya makalah saya pun selesai,” terangnya dengan nada gembira.

Pengalaman pertama kali menulis makalah ternyata tidak membuat saya kecewa, karena tidak ada teguran dari dosen masalah penulisan dalam makalah saya, dan perihal itu sangatlah membuat saya bahagia, dan semangat saya juga bertambah untuk meneruskan studi saya diperguruan tinggi.

Dalam pengalaman tulis menulis, saya sangatlah tidak banyak memiliki kemapuan yang lebih, akan tetapi saya hanya dibekali oleh rasa ingin tahu dan rasa semangat.

Bagi saya menjadi mahasiswa sangatlah lebih berat tanggungannya dari pada saya semasih menjadi siswa, karena menurut pandangan saya menjadi mahasiswa dituntut harus tau dalam berbagai hal apapun.

Hal itulah yang membuat saya tertantang untuk bisa melanjutkan study saya keperguruan tinggi. Dan parahnya lagi menjadi seorang sarjana sangatlah berat tanggungannya. Itulah yang saya alami sekarang.

Banyak mimpi yang sudah saya pikirkan ketika saya sudah melewati suasana menegangkan, yaitu sidang skripsi. Mimpi menjadi wanita karir, adalah salah satu impian terbesar saya.

Karena impianku untuk melanjutkan s2 sudah saya kubur dalam dalam karena melihat pekerjaan bapak saya yang hanya sebagai seorang petani, memang benar beliau tidak melarang saya untuk melanjutkan s2 akan tatapi, saya faham berapa banyak biaya yang akan beliau keluarkan jika saya masih melanjutkan kuliah s2.

Dan akhirnya saya memilih untuk mencari berbagai pekerjaan yang sekiranya di beri izin oleh beliau. Mungkin dengan saya bekerja, akan sedikit meringankan beban beliau dalam menanggung kehidupan keluarga saya.

Setelah sekian banyak saya mendapat brosur lowongan pekerjaan hanya ada dua pekerjaan yang beliau rekomendasikan, yaitu menjadi guru tk dan memo online ini. Dan akhirnya saya memilih melamar di memo online ini.

Awalnya saya tidak sama sekali memiliki semangat untuk membuat lamaran kerja karena kemampuan menulis saya sangatlah tidak memungkinkan untuk bekerja di media memo online.

Namun berkat semangat dan dukungan teman saya yang sudah diterima disana, akhirnya saya memutuskan untuk melamar di media memo online.

Dan alhamdulillah saya di terima disana dan semoga saja ini adalah awal untuk terjun di dunia jurnalistik, yang sebenarnya saya juga masih belum mahir dalam hal tulis menulis. (*)

Catatan: Evadatus Sa’adah merupakan Alumni INSTIKA Guluk-Guluk, dengan program studi Akhlak Tasawuf (S1 AT), yang sekarang menjadi Tim Redaksi MEMOonline.co.id

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Jakarta - Istri cawapres Sandiaga Uno, Nur Asia Uno, menanggapi santai mendengar sang suami dilamar seorang mahasiswi saat...

MEMOonline.co.id, Sumenep - Ratusan Santri dan Alumni Pesantren se-Madura menggelar bakti sosial (Baksos). Acara itu dilaksanakan usai acara...

MEMOonline.co.id, Sumenep - Kiai muda dan Alumni Pesantren se-Madura menggelar deklarasi dukungan terhadap pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden...

MEMOonline.co.id, Makassat – Motif melompatnya dua gadis belia, yakni Wahyuni (21), dan Sarah (16), dari lantai 3 Home Stay B17, Makassar, yang...

MEMOonline.co.id, Surabaya - Tak dapat dipungkiri, ternyata keberadaan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-104 di Jawa...

Komentar