Beternak, Solusi Cerdas Pengentasan Kemiskinan

Foto: Ki Demang dengan ayam piaraannya
1363
ad

Oleh Ki Demang

MEMOonline.co.id. Sumenep - Berbagai upanya telah dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah sampai lembaga non goverment maupun perseorangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disemua lapisan. Upaya tersebut ada yang berbentuk bansos dan ada juga yang bersifat pemberdayaan.

Kegiatan itu dilakukan bukan hanya untuk merespon atas kelesuan ekonomi domestik yang cenderung berkepanjangan sampai sekarang, sekaligus bagian dari ikhtiar untuk pengentasan kemiskinan.

Dengan berbagai macam cara dan rekayasa melalui program aplikatif telah ditawarkan dan dicoba dikembangkan ditengah masyarakat luas.

Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh komunitas pemerhati yang merangkap menjadi relawannya rakyat atau komunitas mandiri diberbagai tempat.

Tapi realitas jumlah pengangguran dan angka kemiskinan tetap saja seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bukankah selama ini pemerintah sudah menggelontorkan dana sekaligus berbagai macam program hingga sampai desa dalam jumlah besar ?

Lalu mengapa angka pengangguran dan kemiskinan begitu sulit diturunkan ?

Adakah sesuatu yang menyebabkan sulitnya menghapus angka kemiskinan ?

Bicara soal kemiskinan dinegri ini (negara berkembang) tidak lepas dari banyaknya faktor yang mempengaruhinya.

Sederhananya karena faktor internal dan eksternal, sebagaimana fakta yang sedang dihadapi masyarakat kecil pada umumnya. Semua itu tidak lepas dari minimnya kualitas SDM, terbatasnya lapangan kerja dan ketidak ratanya pendistribusian kue pembangunan.

Lalu apakah dengan melakukan pemberdayakan warga khususnya bagi warga kota dan pedesaan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya, khususnya dikalangan kaum muda ?

Bagaimana sistem pemberdayaannya dan apa tindak-lanjutnya ? Bagaimana pola perencanaannya ?

Dan mengapa memilih berternak, khususnya ternak ayam kampung ?

Sebenarnya usaha produktif yang paling mudah dan murah ongkosnya adalah berternak ayam kampung.

Bagi seorang pemula, berternak ayam kampung tidaklah membutuhkan modal yang besar seperti usaha yang lain. Lahannya pun tidak harus luas, bahkan lahan ukuran 2x2 meter cukup untuk memelihara ayam kampung dan idak membutuhkan tenaga ekstra serta tidak menyita waktu yang mengganggu urusan yang lain.

Selain itu, upaya lain yang perlu kita dorong adalah memanfaatkan mensos dengan menge-share video tentang tutorial berbagai macam kegiatan usaha produktif. Contohnya adalah ngeshare video tentang "berternak ayam" dimedsos dalam bentuk audio visual dibeberapa group media sosial.

Saya kira publik pasti akan merespon positif dan terbukti diberbagai kesempatan ada yang menanggapi dengan berkomentar sesuai versinya masing-masing.

Bahkan ada yang tidak percaya jika memelihara ayam usia 0 - 30 hari hanya menghabiskan pakan per-ekornya hanya 6 ons full konsentrat dengan bobot 3,5 ons, dibilang terlalu sedikit menghabiskan pakan.

Menurut saya berternak ayam itu tujuannya untuk mencari hasil atau menambah penghasilan, bukan mencari kohe (kotoran hewan) yang dapat dijangkau dikalangan masyarakat kecil. Selain itu berternak ayam dalam sekala kecil atau rumahan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Tidak harus dengan modal yang besar dan memiliki lahan yang luas.

Lahan yang sempit pun bisa dijadikan tempat bernak ayam. Semua warga pedesaan maupun perkotaan bisa berternak dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan pasar dapat dijadikan pakan tambahan seperti sisa makanan, sayur dan buah-buahan.

Salah satu kunci suksesnya berternak ayam adalah menerapkan manajemen pakan. Jika dengan pakan sedikit tapi ayamnya sehat, normal dan gemuk, buat apa diberi pakan yang banyak dan berlebih ?

Disinilah perlunya memahami manajemen pakan dalam berternak ayam apapun.

Setelah usia ayam lebih dari 30 hari, pakannya boleh dicampur dengan bahan yang lain sampai usia panen (3 bulan). Tujuan mencampur pakan ini untuk mengurangi biaya / ongkos pakan pabrikan yang mahal dan tidak pernah turun, sekaligus menjadi penyebab peternak gulung tikar.

Selain untuk menekan biaya pengeluaran, tujuannya agar pendapatannya tetap utuh sebab tidak ada pemborosan pakan. Setelah panen, umur 3 bulan harga jualnya rata-rata per-ekornya Rp. 40 ribu. Dan harganya cukup stabil.

Silahkan dihitung sendiri hasilnya !!!!

Jika kegiatan ternak ayam kampung ini benar-benar digeluti secara profesional secara kolektif maupun mandiri, dijadikan kegiatan pokok sehari-hari atau kegiatan sampingan, hasilnya sungguh cukup menjanjikan, disamping tidak menguras tenaga maupun pikiran. Bahkan ada yang bilang :

"Meskipun punya istri 2, dengan berternak ayam kampung, insyaallah hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan ke-2 istrinya". Dan cocok juga bagi pemerhati janda muda.

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Jakarta- Sengketa tumpang tindih wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) antara PT Artha Bumi Mining dan PT Bintangdelapan Wahana di...

MEMOonline.co.id, Bogor- Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor menggelar peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia tingkat kabupaten pada tahun 2024...

MEMOonline.co.id, Lumajang- Pentingnya sinergitas yang erat antara TNI dan pemerintah desa melalui langkah strategis dengan menyatukan visi dan misi...

MEMOonline.co.id, Pekalongan- Dino Ardiyansah atau yang lebih dikenal King Dino Trader adalah seorang Trader Forex asal Indonesia yang lahir di...

MEMOonline.co.id, Lumajang- Inspektorat Kabupaten Lumajang, terus melakukan pendalaman menindaklanjuti laporan warga Desa Karangsari Kecamatan...

Komentar