Tim Kuasa Hukum Minta Majelis Hakim Bebaskan JEP

Foto: Tim kuasa hukum saat menunjukkan bukti - bukti pembelaan terhadap kliennya
1037
ad

MEMOonline.co.id. Malang - Agenda sidang pembacaan nota pembelaan (pledoi) hari ini digelar di Pengadilan Negeri Malang Kelas 1A Ruang Sidang Cakra, Jalan Ahmad Yani, No.198, Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (3/8/2022).

Dalam sidang tersebut tim kuasa hukum Julianto Eka Putra, DR. Hotma Sitompoel, S.H., M.Hum, Jeffry Simatupang, S.H., M.H, Ditho Sitimpoel, S.H., M.H dan Philipus Harapenta Sitepu, S.H., M.H., membacakan nota pembelaan terhadap kliennya.

"Kami baru saja membacakan nota pembelaan klien kami, dan di sini kami menunjukkan bahwa dukungan dari Siswa - siswi maupum alumni dari Sekolah SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu saat ini masih ada. Mereka meminta keadilan agar pengadilan ini dapat membebaskan klien kami Julianto Eka Putra," demikian ucap Philipus Harapenta Sitepu, S.H., M.H.

Pihaknya meyakini bahwa Julianto Eka Putra tidak melakukan apa yang selama ini didakwakan oleh JPU.

"Kenapa? Karena secara sah dan meyakinkan sudah terbukti bahwa klien kami tidak melakukan seluruh apa yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Inilah bukti - buktinya, kalau misalkan ada orang dari aktivis - aktivis menyatakan bahwa di sana (SPI) terjadi ada dugaan kekerasan sexual," ungkapnya.

Bahkan, kata Philipus, saat ini Siswa - siswa yang di sana (SPI) saja pun masih tetap menyatakan bahwa tidak pernah ada isu berkait pelecehan sexual.

"Jadi ini ada ratusan siswa, bahkan yang sudah lulus menyampaikan semua omongan pelapor (Sheren) itu tidak benar, ratusan orang ini bilang bahwa itu tidak benar. Tidak pernah ada isu, itu baru keluar kemarin ini setelah adanya konspirasi di Bali," bebernya.

Diungkapkan pula oleh DR. Hotma Sitompoel, S.H., M.Hum., bahwa ratusan siswa - siswa mengatakan tidak pernah ada isu terkait hal tersebut.

"Isu itu bisa meledak tiba - tiba, dan bersyukurlah di dalam persidangan tidak terbukti sama sekali dakwaan dan tuntutan saudara Jaksa Penuntut Umum (JPU)," terang Bang Hotma sapaan akrab pengacara kondang itu saat diwawancarai awak media.

Ia menyebut AMS dalam perkara JEP ini kerap melontarkan tuntut terdakwa dengan berat.

"Aris Merdeka Sirait dalam perkara kita selalu mengatakan tuntut berat, hukum berat. Tapi dalam perkara Jakarta Internasional Shcool dia mengatakan bebaskan terdakwa. Aris memiliki dobel standart dalam menangani perkara. Ada apa sih Aris ini? Jangan cuman untuk mencari duit (uang), ketika dia ke kita tidak mengasih apa - apa terus dia mengatakan 'hukum berat - hukum berat' tapi kalau dengan (JIS) bebaskan terdakwa. Pertanyaanya sekarang ada apa dengan Aris Merdeka Sirait?," ungkap Bang Hotma penuh selidik.

Pihaknya juga mengatakan dalam pledoi semua tidak ada buktinya, dan JPU tidak berhasil membuktikan.

"Kami mau menunjukkan, pertanyaanya begini ' selama 12 tahun pelapor ke mana saja? Katanya tertekan, apa bisa masuk diakal selama 12 tahun katanya pelapor tertekan? Buktinya pelapor jalan - jalan berdua bersama  pacarnya beramai ramai ke luar kota bebas melakukan hubungan - hubungan s*k. Terbukti di perdidangan bahwa dia (pelapor) menginap di hotel bersama pacarnya Robert, yang kemudian sekarang mencoba melaporkan eksploitasi. Dua orang ini berusaha menghancurkan SPI, dia akan kita tuntut tanggungjawabnya," tegas Bang Hotma.

Tak hanya itu, tim kuasa hukum JEP juga dikejutkan dengan adanya visum yang dilakukan oleh pelapor.

"Bahkan yang paling mengejutkan, kita menemukan bukti dari Sheren (pelapor) pergi ke hotel bersama pacarnya dan itu dilakukan sebelum visum. Kami sengaja membawa cover ini untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa klien kami itu tidak bersalah. kita sudah menunjukkan bukti di persidangan dan di hadapan para awak media juga bahwa ada konspirasi di Bali," ungkap Jeffry Simatupang, S.H., M.H., penuh tegas.

Maka dari itu pihaknya meminta kepada JPU untuk membuktikan semua apa yang telah didakwakan oleh kliennya tersebut.

"Tanyakan sama Jaksa bagaimana melawan bukti kita, karena kita sudah punya bukti bahwa ini rekayasa, pembicaraan - pembicaraan menjatuhkan terdakwa dan SPI ada buktinya semua. Tanyakan pada jaksa apakah ada bukti untuk melawan bukti kita," tandasnya.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Batu Yogi Sudharsono, S.H, M.H, menyampaikan hari ini pembacaan pledoi dari penasihat hukum terdakwa.

"Pada intinya kuasa hukum terdakwa menganggap bahwa perkara ini adalah suatu rekayasa. Tetapi kita selaku penuntut umum berdasarkan alat bukti kemarin yang sudah kita saksikan di hadapan majelis hakim, baik berupa saksi, petunjuk, surat maupun keterangan ahli, bahwa kita meyakini dan sudah kita cantumkan dalam surat tuntutan kita pada persidangan sebelumnya. Bahwa dalam perkara ini kita yakin terbukti," kata Yogi.

Yogi sampaikan pula, untuk sidang selanjutnya akan digelar kembali pekan depan.

"Selanjutnya persidangan akan dibuka kembali pada Rabu 10 Agustus 2022 untuk membacakan replik dari Jaksa Penuntut Umum," pungkasnya.

Penulis      :    tim/risma

Editor        :   Udiens

Publisher  :   Satrio Pininggit

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Sumenep - DPRD Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar sidang paripurna Istimewa, Selasa (16/8/2022)....

MEMOonline.co.id. Bekasi - Jika pemerintah tidak menindak tegas dan tidak memberikan sanksi hukum yang berat kepada perusahaan...

MEMOonline.co.id. Lumajang - Upaya Satresnarkoba Polres Lumajang Jawa Timur dalam menekan peredaran sabu, bukan sekedar...

MEMOonline.co.id. Sumenep - Dalam rangka mewujudkan kepeduliannya pada petani, Pemerintah Kabupaten Sumenep,...

MEMOonline.co.id. Sampang - Bupati Sampang H Slamet Junaidi bersama Wabup Sampang H. Abdullah Hidayat bersama...

Komentar